Sang jingga mulai menampakkan ronanya.
Membuatku merasa kembali pada senja yang sama.
Dimana kita menjadi kata yang paling aku suka.
Membuatku mengingat bagaimana harus memperlakukan luka masa lalumu.
Mengingat bagaimana caramu menyampaikan setiap jengkal masalahmu.
Segala hal yang menyangkut orang-orang disekitarmu.
Nampak matamu mulai berkaca hingga pecah air mata.
Aku takut harus bagaimana memperlakukan setiap duka manusia.
Dengan sebab dan kadar pilu yang sudah pasti beda takarannya.
Hingga tangismu menjadi satu perekat rasa.
Sebagai salah satu alasan kenapa aku merasa harus tetap berada disamping
orang yang sama.
Jingga mulai perlahan tenggelam.
Menyadarkan ku bahwa semua telah hilang.
Bukan hanya senja kegemaranku.
Tapi juga sahabat terbaikku.
Aku benci ketika malam merenggut senjaku.
Senja yang senantiasa menemaniku dalam mengingat segala tentangmu.
Sekalipun aku tau bagaimana pedihnya merasakan rindu.
Tidak ada satupun kaca pecah yang bisa kembali cerah.
Memancarkan bahagia yang telah hilang sirna.
Senjaku karam
Malam benar-benar ingin mengambil alih semuanya.
Mengambil hatimu yang tentu saja suka pada hal baru.
Aku rindu bagaimana matamu nanar dengan suara bergetar.
Mempercayaiku dengan segala macam cara tetap tegar.
Aku suka bagaimana caramu menangis lalu tenang dengan hanya satu ucapan.
Aku akan tetap disini.
Disampingmu.
Tak peduli bagaimana mereka menghancurkan hatimu.
Aku adalah orang pertama yang akan menjaga hatimu.
Sebagai sahabatmu.
Lebih dari saudaramu.
Anggap aku kakakmu, adikmu, siapapun semaumu.
Orang yang berkat pilunya tangismu memeluk erat hatiku merasa bertanggung
jawab atas sebagian hatimu.
Gulita mengambil alih suasana.
Aku tersadar bagaimana aku terlarut dalam kesedihan.
Mengingatmu sendiri dalam diam.
Menyadari bahwa senja benar-benar hilang.
Terenggut malam bertabur bintang.
Selamat datang sendu.
Selamat datang rindu.
Kumohon jangan membuatku candu.
Aku takut larut dalam senja dengan segala pilu.
